Selasa, 18 Mei 2010
Selasa, 19 Mei 2009
Pemberian Tuhan
Tuhan beri aku kesehatan
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku keselamatan
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku makanan dan minuman
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku keluarga yang utuh
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku Suami yang setia
Tuhan beri aku Suami yang begitu menyayangi
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku jagoan kecil yang lucu
Tuhan beri aku jagoan kecil yang tidak nakal
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku teman yang baek disekelilingku
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri 'kecukupan' buat hari ini
Itu sudah lebih dari cukup buat aku
Tuhan tidak memberiku harta berlimpah
Karena hanya akan membuatku lupa'
Tuhan tidak memberiku rumah yang mewah
Karena hanya akan membuatku sombong
Tuhan tidak memberiku mobil yang mewah
Karena hanya akan membuatku malas
Tuhan tidak memberiku uang yang banyak
Karena hanya akan membuatku boros
Aku percaya, Tuhan telah Memberiku
Apa yang terbaik buat aku.
Terimakasih Tuhan atas PemberianMu
(Ratrie, Mei '09)
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku keselamatan
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku makanan dan minuman
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku keluarga yang utuh
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku Suami yang setia
Tuhan beri aku Suami yang begitu menyayangi
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku jagoan kecil yang lucu
Tuhan beri aku jagoan kecil yang tidak nakal
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku teman yang baek disekelilingku
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri 'kecukupan' buat hari ini
Itu sudah lebih dari cukup buat aku
Tuhan tidak memberiku harta berlimpah
Karena hanya akan membuatku lupa'
Tuhan tidak memberiku rumah yang mewah
Karena hanya akan membuatku sombong
Tuhan tidak memberiku mobil yang mewah
Karena hanya akan membuatku malas
Tuhan tidak memberiku uang yang banyak
Karena hanya akan membuatku boros
Aku percaya, Tuhan telah Memberiku
Apa yang terbaik buat aku.
Terimakasih Tuhan atas PemberianMu
(Ratrie, Mei '09)
Rabu, 04 Maret 2009
Ibu-Ibu TK
Senangnya bisa mengantar dan menunggu anak sekolah. Ada yang menarik, saat menunggu, kumpul bareng ibu-ibu yang anaknya sekolah di tk. Kita bertemu dengan berbagai karakter,ada yang cerita tentang kuliahnya dulu, ada yang cerita tentang anaknya, ada yang cerita tentang harta kekayaannya, ada yang cerita tentang mertua, ponakan, tetangga, dsb, ada yang sambil menggelar dagangan, ada yang narsis abiizzz, ada yang cuma diem aza sambil 'manggut-manggut', ada yang cuma dengerin, mengamati sambil sesekali menimpali, yaitu aku he he he ....
Selasa, 03 Maret 2009
Suka-Duka
Saat ditanya, "Bahagiakah engkau/kalian dengan pernikahanmu/kalian ?" Jawabnya, "Ya aku/kami bahagia". "Menderitakah engkau/kalian dengan pernikahanmu/kalian ?" Jawabannya, "Ya aku/kami menderita".
Suka-duka dalam sebuah pernikahan itu pasti ada. Sebelum mengucap janji dan berkomitmen untuk menikah harus benar-benar diresapi dan dipahami terlebih dahulu dan pertimbangkan secara masak konsekuensi dari komitmen tersebut. Sudah siapkah kita menghadapi apa yang akan terjadi baik hal yang mendatangkan kebahagiaan maupun hal yang sepahit apapun dalam kehidupan berumahtangga. Itulah mengapa pernikahan itu begitu 'sakral' nya.
Seiring berjalannya waktu, selang beberapa tahun usia pernikahan, pasti tidak seindah yang dibayangkan oleh pasangan yang baru saja menikah. Kerikil, godaan dalam pernikahan itu pasti ada, baik besar maupun kecil, dan tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Namun pada kenyataannya, saat menghadapi suatu cobaan yang begitu berat, biduk pernikahan akan sedikit goyah. Maka di carilah si kambing hitam, saling menyalahkan, saling menghitung pengorbanan-pengorbanan yang diberikan, saling mencari kelemahan masing-masing dan yang lebih parah telah lupa akan apa yang diikrarkan saat menikah dulu. Akan sehidup-semati, akan selalu bersama baik dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, dst. Sedemikian mudahnya mengingkari janji itu. Namun masih ada pasangan yang tetap mempertahankan pernikahannya, dan berusaha untuk senantiasa mengingat dan memenuhi janji pernikahannya.
Banyak contoh, yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya sebagai 'kaca benggala' hidup kita. Contoh yang jelas terlihat seperti kehidupan para selebritis, yang dengan mudahnya kawin-cerai, seolah tidak peduli atau tidak memandang begitu 'sakral'nya janji pernikahan itu. Jika ditilik sebab apa yang menjadi pemicu kenapa bercerai, adanya ketidakcocokan. Seolah pernikahan adalah obyek untuk mencoba-coba, cocok dipakai, tidak cocok dibuang/dicerai, masih sayang dibuang ya di'madu'. Bahkan ada di saat pasangan terjatuh, baik karena dalam keadaan sakit parah, di-phk, pailit dalam usahanya, dipenjara dst, dimana membutuhkan dukungan moral, pengertian, kesabaran dan doa, justru menjadi alasan untuk meninggalkan/menceraikannya. Sudah lupakah akan janji pernikahan ?!?! Justru dalam keadaan seperti inilah kesetiaan diuji dan janji itu diuji. Ada yang 'lulus' dari ujian ini, namun banyak yang 'tidak lulus' dalam ujian ini. Jika Kita adalah bagian dari salah satu yang 'lulus' dari 'ujian' tersebut, banyak yang akan kita petik, kita akan semakin bersyukur akan apa yang telah menimpa, akan menambah hikmat bagi keluarga, dan yang jelas akan semakin disayangi dan betapa berharganya satu sama lain. "Segalanya akan indah pada waktunya". Ok. GBU.
Suka-duka dalam sebuah pernikahan itu pasti ada. Sebelum mengucap janji dan berkomitmen untuk menikah harus benar-benar diresapi dan dipahami terlebih dahulu dan pertimbangkan secara masak konsekuensi dari komitmen tersebut. Sudah siapkah kita menghadapi apa yang akan terjadi baik hal yang mendatangkan kebahagiaan maupun hal yang sepahit apapun dalam kehidupan berumahtangga. Itulah mengapa pernikahan itu begitu 'sakral' nya.
Seiring berjalannya waktu, selang beberapa tahun usia pernikahan, pasti tidak seindah yang dibayangkan oleh pasangan yang baru saja menikah. Kerikil, godaan dalam pernikahan itu pasti ada, baik besar maupun kecil, dan tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Namun pada kenyataannya, saat menghadapi suatu cobaan yang begitu berat, biduk pernikahan akan sedikit goyah. Maka di carilah si kambing hitam, saling menyalahkan, saling menghitung pengorbanan-pengorbanan yang diberikan, saling mencari kelemahan masing-masing dan yang lebih parah telah lupa akan apa yang diikrarkan saat menikah dulu. Akan sehidup-semati, akan selalu bersama baik dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, dst. Sedemikian mudahnya mengingkari janji itu. Namun masih ada pasangan yang tetap mempertahankan pernikahannya, dan berusaha untuk senantiasa mengingat dan memenuhi janji pernikahannya.
Banyak contoh, yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya sebagai 'kaca benggala' hidup kita. Contoh yang jelas terlihat seperti kehidupan para selebritis, yang dengan mudahnya kawin-cerai, seolah tidak peduli atau tidak memandang begitu 'sakral'nya janji pernikahan itu. Jika ditilik sebab apa yang menjadi pemicu kenapa bercerai, adanya ketidakcocokan. Seolah pernikahan adalah obyek untuk mencoba-coba, cocok dipakai, tidak cocok dibuang/dicerai, masih sayang dibuang ya di'madu'. Bahkan ada di saat pasangan terjatuh, baik karena dalam keadaan sakit parah, di-phk, pailit dalam usahanya, dipenjara dst, dimana membutuhkan dukungan moral, pengertian, kesabaran dan doa, justru menjadi alasan untuk meninggalkan/menceraikannya. Sudah lupakah akan janji pernikahan ?!?! Justru dalam keadaan seperti inilah kesetiaan diuji dan janji itu diuji. Ada yang 'lulus' dari ujian ini, namun banyak yang 'tidak lulus' dalam ujian ini. Jika Kita adalah bagian dari salah satu yang 'lulus' dari 'ujian' tersebut, banyak yang akan kita petik, kita akan semakin bersyukur akan apa yang telah menimpa, akan menambah hikmat bagi keluarga, dan yang jelas akan semakin disayangi dan betapa berharganya satu sama lain. "Segalanya akan indah pada waktunya". Ok. GBU.
Senin, 23 Februari 2009
Ibu Rumah Tangga
Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan. Dan menjadi wanita bekerja pun juga merupakan pilihan. Dan saat ini pun aku memilih keduanya, menjadi ibu rumah tangga yang 'mulia' dan menjadi wanita bekerja. Sungguh repot memang, harus pandai membagi waktu, tenaga dan pikiran, termasuk membagi kedua 'peran' yang berbeda tersebut. Dibutuhkan lebih banyak stamina yang kuat. Bagaimana tidak kita bekerja selama hampir 24 jam tiap hari. Terlebih jika tanpa ada 'asisten' rumah tangga alias pembantu. Namun semua itu akan terasa ringan jika ada pengertian dari masing-masing anggota keluarga. Dan akan semakin ringan jika dilakukan dengan iklas dan ketabahan hati. Dan bukan hanya aku saja yang memilih kedua peran ini, banyak ibu-bu yang lain yang mengalami hal serupa. Doa kami, semoga diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menjalani ke-dua peran tersebut. Terimakasih untuk para IBU ....
Jumat, 20 Februari 2009
Salam Kangen

Salam kangen ....
Lama ngga ngeblog di sini ... kangen juga yach .... Nah di tahun 2009 ini lah daku muncul lagi. Ta' pikir blog ini dach hilang, eh ternyata masih eksis, walo ditinggal bertapa sama penghuninya he he he .... Thank's yach blogspot, ga' ngehapusin blog-ku ini, jadi kangen neh pengen nulis, tapi nulis apa yach ? Sorry belum ada ide nih ... kali lain aza yach ...
Ratrie
Rabu, 13 Agustus 2008
Kangen
Lama aku tidak menulis di blog-ku ini, terkadang timbul rasa kangen juga untuk menulis, namun justru 'rasa malas' lah yg ada untuk menulis sebuah kisah, walau kisah itu sudah melayang-layang di alam pikirku. Dan saat banyak persoalan hidup dan banyak masalah mendera, membuatku malas untuk menulis. Seperti biasa menghadapi segala rutinitas di kantor, badan dan pikiran rasanya capek, aku coba browsing internet barangkali ada hal menarik yang bisa bermanfaat. Dari browsing judul buku baru hingga terperangkap ke browsing lainnya yang sebenarnya bukan tujuan utamaku. Akhirnya aku pustuskan untuk melihat blog-ku yg 'kesepian' maklumlah aku masih belajar bikin blog. Bisa dikatakan masih 'rada gaptek'. Syukur pada Tuhan, ternyata blog-ku masih ada dan belum dihapus. Thanks. Lain waktu aza aku nulis di blog ini. Salam.
Selasa, 01 April 2008
Sepeda Baru Rangga

Si kecil Rangga, melihat keluar rumah melalui kaca jendela yang mulai kusam oleh debu. Di luar sana anak-anak sebayanya dan seusianya sedang dengan riang dan bergembira mengendarai sepeda kecilnya masing-masing. Aku mengamati apa yang sedang dilakukan anakku, dan aku juga mengira-ira dan bisa merasakan apa yang dipikirkan anak seusia empat tahun seperti Rangga. Tentunya dia sangat ingin mempunyai sepeda baru beroda empat seperti yang dipunyai teman-temanya di luar jendela sana. Aku dapat merasakan betapa dia ingin bergabung dengen teman-teman seusianya, namun si kecil Rangga belum mempunyai sepeda roda empat seperti yang dipunyai teman-temannya. Aku menjadi tersentuh melihatnya. Aku sengaja menunggu reaksi anakku, dan menduga pertanyaan/rengekan apa yang akan terlontar dari bibir mungilnya. Aku membatin pasti dia akan merengek minta dibelikan sepeda. Dan aku juga sudah siap dengan jawabannya seandainya hal itu terlontar dari mulut kecilnya. Beberapa saat kemudian aku lihat Rangga mulai mendekatiku, dan ternyata perkiraanku meleset bahwa rangga akan merengek minta dibelikan sepeda. Rangga justru berkata demikian ... "Bunda, tabungan Rangga kira-kira cukup tidak ya buat beli sepeda baru ?" memang selama ini aku melatih dan membiasakan Rangga untuk selalu menabung pada 'celengan' ayamnya yang sekarang ini sudah penuh. AKu justru terkesiap dengan pertanyaan Rangga yang jauh dari perkiraanku pasti akan merengek untuk dibelikan sepeda, namun justru rangga berinisiatif untuk memakai tabungannya sendiri untuk membeli sesuatu yang dia inginkan. "Ya sayank, besok kita beli sepeda baru dari tabungan Rangga, jika kurang nanti bunda tambah ya" Jawabku. Dan jawaban Rangga yang spontan "Jika Bunda belum punya uang, Rangga masih bisa menunggu koq sampai tabungan Rangga buanyak sekali" Katanya lagi. Aku menjadi terharu dan bangga dengan Rangga, yang hampir tidak pernah meminta dan menuntut, walau aku tau betapa dia menginginkannya. Sekarang Rangga telah mempunyai sepeda baru dari uang tabungannya sendiri yang dia kumpulkan receh demi receh yang seharusnya bisa Rangga pakai buat beli jajanan yang dia suka. Terimakasih sayang, dan bunda bangga sekali sama kamu.
Jumat, 14 Maret 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
