Rabu, 19 Mei 2010
Sepeda oh Sepeda
Sepeda oh sepeda dimanakah bisa kutemui ? Kamulah sahabat bumi terbaik diantara teman-teman seprofesimu sebagai alat penghubung dan penyambung jarak. Namun kini, jarang kujumpai dirimu melenggang di kotaku yang penuh sesak, berisik, bising nyanyian temanmu ....
Sunset
Sunset, panorama yang eksotis.... Betapa indah dan agungnya ciptaan sang Maha Karya. Bersyukurlah kita bisa menikmati keindahan ini. Terimakasih Tuhan ....
Roses
Bunga mawar melambangkan keindahan dan keanggunan. Banyak digunakan sebagai simbol kasih sayang. Terbukti banyak digunakan dari acara pernikahan hingga pemakaman.Inilah keistimewaan bunga mawar.
Di doa Ibuku namaku disebut - Nikita
Doa yang tulus adalah doa seorang ibu. Kita menjadi seperti sekarang ini tak lepas dari doa Ibu yang senantiasa ditujukan untuk kebaikan kita. Terimakasih Ibu.
Selasa, 18 Mei 2010
Selasa, 19 Mei 2009
Pemberian Tuhan
Tuhan beri aku kesehatan
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku keselamatan
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku makanan dan minuman
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku keluarga yang utuh
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku Suami yang setia
Tuhan beri aku Suami yang begitu menyayangi
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku jagoan kecil yang lucu
Tuhan beri aku jagoan kecil yang tidak nakal
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku teman yang baek disekelilingku
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri 'kecukupan' buat hari ini
Itu sudah lebih dari cukup buat aku
Tuhan tidak memberiku harta berlimpah
Karena hanya akan membuatku lupa'
Tuhan tidak memberiku rumah yang mewah
Karena hanya akan membuatku sombong
Tuhan tidak memberiku mobil yang mewah
Karena hanya akan membuatku malas
Tuhan tidak memberiku uang yang banyak
Karena hanya akan membuatku boros
Aku percaya, Tuhan telah Memberiku
Apa yang terbaik buat aku.
Terimakasih Tuhan atas PemberianMu
(Ratrie, Mei '09)
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku keselamatan
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku makanan dan minuman
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku keluarga yang utuh
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku Suami yang setia
Tuhan beri aku Suami yang begitu menyayangi
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku jagoan kecil yang lucu
Tuhan beri aku jagoan kecil yang tidak nakal
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri aku teman yang baek disekelilingku
Itu sudah cukup buat aku
Tuhan beri 'kecukupan' buat hari ini
Itu sudah lebih dari cukup buat aku
Tuhan tidak memberiku harta berlimpah
Karena hanya akan membuatku lupa'
Tuhan tidak memberiku rumah yang mewah
Karena hanya akan membuatku sombong
Tuhan tidak memberiku mobil yang mewah
Karena hanya akan membuatku malas
Tuhan tidak memberiku uang yang banyak
Karena hanya akan membuatku boros
Aku percaya, Tuhan telah Memberiku
Apa yang terbaik buat aku.
Terimakasih Tuhan atas PemberianMu
(Ratrie, Mei '09)
Rabu, 04 Maret 2009
Ibu-Ibu TK
Senangnya bisa mengantar dan menunggu anak sekolah. Ada yang menarik, saat menunggu, kumpul bareng ibu-ibu yang anaknya sekolah di tk. Kita bertemu dengan berbagai karakter,ada yang cerita tentang kuliahnya dulu, ada yang cerita tentang anaknya, ada yang cerita tentang harta kekayaannya, ada yang cerita tentang mertua, ponakan, tetangga, dsb, ada yang sambil menggelar dagangan, ada yang narsis abiizzz, ada yang cuma diem aza sambil 'manggut-manggut', ada yang cuma dengerin, mengamati sambil sesekali menimpali, yaitu aku he he he ....
Selasa, 03 Maret 2009
Suka-Duka
Saat ditanya, "Bahagiakah engkau/kalian dengan pernikahanmu/kalian ?" Jawabnya, "Ya aku/kami bahagia". "Menderitakah engkau/kalian dengan pernikahanmu/kalian ?" Jawabannya, "Ya aku/kami menderita".
Suka-duka dalam sebuah pernikahan itu pasti ada. Sebelum mengucap janji dan berkomitmen untuk menikah harus benar-benar diresapi dan dipahami terlebih dahulu dan pertimbangkan secara masak konsekuensi dari komitmen tersebut. Sudah siapkah kita menghadapi apa yang akan terjadi baik hal yang mendatangkan kebahagiaan maupun hal yang sepahit apapun dalam kehidupan berumahtangga. Itulah mengapa pernikahan itu begitu 'sakral' nya.
Seiring berjalannya waktu, selang beberapa tahun usia pernikahan, pasti tidak seindah yang dibayangkan oleh pasangan yang baru saja menikah. Kerikil, godaan dalam pernikahan itu pasti ada, baik besar maupun kecil, dan tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Namun pada kenyataannya, saat menghadapi suatu cobaan yang begitu berat, biduk pernikahan akan sedikit goyah. Maka di carilah si kambing hitam, saling menyalahkan, saling menghitung pengorbanan-pengorbanan yang diberikan, saling mencari kelemahan masing-masing dan yang lebih parah telah lupa akan apa yang diikrarkan saat menikah dulu. Akan sehidup-semati, akan selalu bersama baik dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, dst. Sedemikian mudahnya mengingkari janji itu. Namun masih ada pasangan yang tetap mempertahankan pernikahannya, dan berusaha untuk senantiasa mengingat dan memenuhi janji pernikahannya.
Banyak contoh, yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya sebagai 'kaca benggala' hidup kita. Contoh yang jelas terlihat seperti kehidupan para selebritis, yang dengan mudahnya kawin-cerai, seolah tidak peduli atau tidak memandang begitu 'sakral'nya janji pernikahan itu. Jika ditilik sebab apa yang menjadi pemicu kenapa bercerai, adanya ketidakcocokan. Seolah pernikahan adalah obyek untuk mencoba-coba, cocok dipakai, tidak cocok dibuang/dicerai, masih sayang dibuang ya di'madu'. Bahkan ada di saat pasangan terjatuh, baik karena dalam keadaan sakit parah, di-phk, pailit dalam usahanya, dipenjara dst, dimana membutuhkan dukungan moral, pengertian, kesabaran dan doa, justru menjadi alasan untuk meninggalkan/menceraikannya. Sudah lupakah akan janji pernikahan ?!?! Justru dalam keadaan seperti inilah kesetiaan diuji dan janji itu diuji. Ada yang 'lulus' dari ujian ini, namun banyak yang 'tidak lulus' dalam ujian ini. Jika Kita adalah bagian dari salah satu yang 'lulus' dari 'ujian' tersebut, banyak yang akan kita petik, kita akan semakin bersyukur akan apa yang telah menimpa, akan menambah hikmat bagi keluarga, dan yang jelas akan semakin disayangi dan betapa berharganya satu sama lain. "Segalanya akan indah pada waktunya". Ok. GBU.
Suka-duka dalam sebuah pernikahan itu pasti ada. Sebelum mengucap janji dan berkomitmen untuk menikah harus benar-benar diresapi dan dipahami terlebih dahulu dan pertimbangkan secara masak konsekuensi dari komitmen tersebut. Sudah siapkah kita menghadapi apa yang akan terjadi baik hal yang mendatangkan kebahagiaan maupun hal yang sepahit apapun dalam kehidupan berumahtangga. Itulah mengapa pernikahan itu begitu 'sakral' nya.
Seiring berjalannya waktu, selang beberapa tahun usia pernikahan, pasti tidak seindah yang dibayangkan oleh pasangan yang baru saja menikah. Kerikil, godaan dalam pernikahan itu pasti ada, baik besar maupun kecil, dan tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Namun pada kenyataannya, saat menghadapi suatu cobaan yang begitu berat, biduk pernikahan akan sedikit goyah. Maka di carilah si kambing hitam, saling menyalahkan, saling menghitung pengorbanan-pengorbanan yang diberikan, saling mencari kelemahan masing-masing dan yang lebih parah telah lupa akan apa yang diikrarkan saat menikah dulu. Akan sehidup-semati, akan selalu bersama baik dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, dst. Sedemikian mudahnya mengingkari janji itu. Namun masih ada pasangan yang tetap mempertahankan pernikahannya, dan berusaha untuk senantiasa mengingat dan memenuhi janji pernikahannya.
Banyak contoh, yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya sebagai 'kaca benggala' hidup kita. Contoh yang jelas terlihat seperti kehidupan para selebritis, yang dengan mudahnya kawin-cerai, seolah tidak peduli atau tidak memandang begitu 'sakral'nya janji pernikahan itu. Jika ditilik sebab apa yang menjadi pemicu kenapa bercerai, adanya ketidakcocokan. Seolah pernikahan adalah obyek untuk mencoba-coba, cocok dipakai, tidak cocok dibuang/dicerai, masih sayang dibuang ya di'madu'. Bahkan ada di saat pasangan terjatuh, baik karena dalam keadaan sakit parah, di-phk, pailit dalam usahanya, dipenjara dst, dimana membutuhkan dukungan moral, pengertian, kesabaran dan doa, justru menjadi alasan untuk meninggalkan/menceraikannya. Sudah lupakah akan janji pernikahan ?!?! Justru dalam keadaan seperti inilah kesetiaan diuji dan janji itu diuji. Ada yang 'lulus' dari ujian ini, namun banyak yang 'tidak lulus' dalam ujian ini. Jika Kita adalah bagian dari salah satu yang 'lulus' dari 'ujian' tersebut, banyak yang akan kita petik, kita akan semakin bersyukur akan apa yang telah menimpa, akan menambah hikmat bagi keluarga, dan yang jelas akan semakin disayangi dan betapa berharganya satu sama lain. "Segalanya akan indah pada waktunya". Ok. GBU.
Langganan:
Postingan (Atom)